Searching...
Tuesday, 29 April 2014

Kearifan Maritim Segalam Zaman

Kisah hidup Laksamana Pertama (Pur) Urip Santoso, sangat menyatu dengan dunia kelautan (maritim). Kisah dan kiprah perwira tinggi yang berperan besar membentuk Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI-AL, ini sangat berguna dijadikan sebagai potret dan cermin untuk mengasah kearifan maritim. Dia yang hidup dan berkiprah pada 'segala zaman', mulai dari zaman penjajahan Belanda sampai era reformasi saat ini, telah menjelajah lautan dalam Indonesia. Dia

jualah pionir wisata bahari Indonesia.


Urip Santoso  

Pembentuk Kopaska dan Pionir Wisata Bahari,Wakil Ketua Dewan Penasihat Forum Masyarakat Maritim Indonesia (FMMI), itu adalah alumni Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM), Akademi Angkatan Laut Kerajaan Belanda (Royal Dutch Naval Academy), di Den Helder, Belanda, September 1950-Agustus 1953. Dia juga memiliki spesialisasi penyelaman lautan dalam dan demolisi.Laksamana Pertama TNI Angkatan Laut (Purn) Urip Santoso lahir di kota nelayan, Brebes, Tegal, 19 September 1923. Namun kalau ditanya berapa tahun umurnya, dia punya tiga jawaban, yakni umur kronologis, biologis dan psikologis.
Umur kronologis yakni umur (hari lahir) yang dipakai secara kronologis di rapor, ijazah dan surat-surat resminya, seperti surat keputusan kepangkatan dan jabatan, dia tercatat lahir pada tanggal 19 September 1926.Tapi belakangan baru dia tahu, bahwa tahun kelahiran biologisnya sesungguhnya bukan tahun 1926 tetapi 1923. Hal itu dia tahu dari copy surat almarhum ayahnya kepada almarhum adiknya di Australia yang dia baca pada suatu hari, tahun 2000. 
Dalam surat itu diterangkan lengkap hari lahirnya bersama saudara-saudaranya. Sejak itulah baru dia tahu, bahwa tahun kelahirannya (umur biologisnya) bukan tahun 1926, tapi 1923, dengan tanggal dan bulan yang sama, yakni 19 September.

Tentang perbedaan tahun kelahirannya itu, tentu bukanlah dia sengaja. Pada mulanya, dia mengikuti apa yang tertulis di rapor dan ijazahnya (kronologis) yakni 1926. Namun setelah mengetahui tanggal lahirnya yang sesungguhnya (biologis), maka tahun 1923 itulah yang digunakan sebagai patokan hitungan umur.Walaupun secara psikologis, umur psikologis, dia pun tidak merasa kelahiran tahun 1926 apalagi 1923, melainkan sekitar tahun 1930-an. Karena hingga usia 87 tahun (2010) dia masih terlihat fit, masih bisa naik tangga dan berenang. Bahkan kalau ada orang cantik lewat, dia masih lihat. Dalam hal melihat gadis cantik itu, isterinya pun tidak pernah melarang, asal jangan jahil. Hal ini sekadar menggambarkan betapa dalam usia 87 tahun (pada 19 September 2010) dia masih sehat dan fit.
Memang fisiknya masih terlihat gagah, sehat dan bergairah. Selain karena kebiasaan berolahraga sebagai seorang mantan prajurit angkatan darat (pangkat Kapten) dan angkatan laut (pangkat Laksamana Pertama), juga karena gaya hidupnya yang enjoy dan bersahaja. Dia seorang yang tidak mau memendam kekecewaan, tetapi dia melepaskannya tanpa beban. 

Dia lebih memilih enjoy, bersenang hati dan berbahagia daripada menyimpan kesedihan, kekecewaan dan bersungut-sungut. Dia lebih memilih selalu beraktivitas, bekerja keras, daripada berdiam diri merenungi 'pembuangan', kegagalan atau kekecewaan.
Gaya bicaranya masih berwibawa dengan intonasi yang jelas, tegas dan baik. Pendengarannya juga masih tajam. Sorot matanya di balik kaca umurnya masih tajam dan memikat. Kendati daya ingatnya sudah mulai berkurang, tetapi kecerdasan dan kearifannya masih mumpuni. Tegasnya, dia belum pikun! Dalam percakapan dengan wartawan TokohIndonesia.com Ch. Robin Simanullang dan Marjuka Situmorang di kantornya, PT. Nusantara Fishery (dia sebagai Komisaris Utama), Jalan Wijaya I, Jakarta, pada 29 Juli 2010, dia sesekali bercanda akrab, seperti bertemu sahabat lama. Sepertinya tidak ada jarak, akrab! Dia seorang orang tua yang egaliter. Tidak ada kesan feodalis.Sesepuh Forum Masyarakat Maritim Indonesia (FMMI), itu di mana di forum itu dia juga aktif sebagai Ketua Tim Gagasan Bina Sistem Maritim untuk memberi masukan kepada Prof. Dr. Emil Salim, saat diwawancara wartawan TokohIndonesia.com, didampingi Harjono, Wakil Sekjen FMMI.

Hidup dalam Segala Zaman

Dia bukan tipe orang tua yang memaksakan kehendak atau nilai-nilai yang dianutnya kepada orang lain atau generasi lebih muda. Dia orang tua yang berpandangan bahwa setiap zaman mempunyai tantangan dan nilai-nilainya sendiri. Dia seorang insan yang hidup (eksis) dalam banyak zaman. Boleh dibilang, dia manusia yang mampu hidup dalam segala zaman.Mulai dari, Pertama, zaman penjajahan Belanda yang ditandai dengan perjuangan perintis kemerdekaan, saat mana dia lahir (1923) dan mengecap pendidikan menengah (sampai 1942). Kedua, zaman penjajahan Jepang, dimana dia sudah menjadi seorang remaja yang matang dan menjadi siswa SMT Jakarta (1942-1945). Ketiga, zaman perjuangan kemerdekaan (1945-149) dimana dia ikut berjuang dengan pangkat kapten dan sempat dipenjara selama tiga tahun. Keempat, berlanjut pada zaman pemerintahan (demokrasi) parlementer (1950-1955. Kelima, zaman demokrasi terpimpin (1955-1966). Keenam, lalu berkiprah di zaman Orde Baru (1966-1998). Ketujuh, sampai zaman Reformasi (1998-sekarang).

Pada semua zaman itu dia hidup dan berkiprah. Hal mana semua zaman itu, yang mempunyai tantangan dan nilai-nilai berbeda, telah memberinya kearifan hidup. Terutama kearifan di bidang kemaritiman, dunia (lingkup) yang sangat menyatu dengan hidupnya. Kearifan maritim sedalam lautan, di mana dia sangat mencintai laut dan mendedikasikan diri sepenuhnya di kelautan. Sehingga kisah hidupnya, layak dikategorikan sebagai bagian dari biografi maritim Indonesia.
Latar belakang pendidikan, karir dan pengalaman empirisnya menyelami lautan dalam Indonesia serta kiprahnya dalam dunia usaha wisata bahari dan perikanan laut, menempatkannya menjadi seorang putera bangsa yang terbaik dalam dunia kemaritiman. Dalam bidang kelautan atau kemaritiman, Urip Santoso bukanlah hanya sekadar ahli atau praktisi atau Aktivis (penggiat). Tatapi dia menyelami, merasakan dan menyatu dengan lautan secara paripurna. Dia bertekad secara total mendedikasikan diri dalam dunia kelautan hingga akhir hayatnya. Maka patutlah dia diapresiasi sebagai 'buku hidup' kearifan kemaritiman Indonesia. Bio TokohIndonesia.com
Sumber: http://www.tokohindonesia.com

0 comments:

Post a Comment

 
Back to top!